Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Pemuda Palopo

Palopo dan Pengangguran

Oleh : Yusuf Priandi

H Muhammad Judas Amir, Bapak wali kota Palopo yang telah membuat pengangguran sejati seperti saya menjadi kesepian. Bagaimana tidak!
Sebab program beliau “Siapa mau kerja apa.” mengajak serta memberi banyak motivasi masyarakat pemuda untuk tidak tinggal diam dan mulai bangkit bekerja serta bebas berkarya. Teman-teman saya tidak lagi berada di tempat tongkronan seperti biasanya. Dikarenakan mereka sibuk dengan potensi masing-masing.
Sebagai pengangguran sejati, saya pun merasa sedih dan sendiri. Tidak ada lagi teman hura-hura seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada lagi kumpul-kumpul ria berpesta minuman keras menghabiskan uang orang tua, tidak ada lagi berkendara liar ugal-ugalan sepanjang jalan kota. Semua ini karnamu pak wali kota, merebut teman-teman sebaya saya dan memutar arah hidup mereka untuk mulai memikirkan taraf hidup yang lebih baik.
H Muhammad Judas Amir, saya kecewa sama beliau. Sebab beliau telah berhasil mengurangi pengangguran yang bertebaran di kota Palopo. Teman masa bodoh saya pun menjadi berkurang.
Bahkan tidak main-main, Bapak Wali kota menuturkan akan menyediakan tempat museum seni untuk memamerkan karya-karya seniman agar bisa dilihat oleh masyarakat setiap saat. Hal itu beliau sampaikan dalam Festival Kota Pusaka (FKP) Palopo 2017.
Kegiatan hal seperti itulah membuat saya semakin gila, frustasi akan sendiri. Sedang pemuda kebanyakan malah semakin bersemangat mendengar hal tersebut.
Aneh! Ada apa dengan mereka? Tidakkah mereka merindukan kesenangan-kesenangan yang dulu? Ahh…  Sudahlah!
Tidak sampai disitu.  Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kepelautan merupakan salah-satu program visioner dan andalan wali kota Palopo yang dilakukan sejak tahun 2013 lalu atau sejak kota Palopo dipimpin oleh Bapak Judas Amir. Menjadi satu-satunya dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia pemerintah membiayai anak mudanya mengikuti diklat pelatihan setiap tahun.
Karena program ini yang membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda di kota Palopo,  membuat sebagian pengangguran seangkatan saya hilang satu per satu. Mereka ikut serta dalam program tersebut dan sudah ada yang bekerja menjadi pelaut tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Sebagai pengangguran sejati, saya semakin tertinggal jauh karena terlena pergaulan masa kini miskin akan manfaaat.
H Muhammad Judas Amir. Setahun yang lalu beliau sangat mendukung dan membuka kegiatan pop singer religi secara resmi yang dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kota Palopo, tepatnya Minggu,  22 Juni 2016. Bahkan beliau senang mengapresiasi kegiatan tersebut.
Untuk apa kegiatan seperti itu? Wahai Bapak Wali Kota Palopo yang tak luput memberikan perhatian kepada anak-anak muda dalam mengasah kemampuan dan bakat bernyanyi mereka.
Teman-teman saya semakin menemukan jati diri mereka,  sedangkan saya habis terpuruk. Gang dan slogan pengangguran sejati yang dulu kami tanamkan kini hancur karena beliau.
Saya masih ingat betul apa yang diungkapkan beliau tempo hari. “Saya selalu bilang, siapa mau apa. Tidak boleh lagi ada anak muda yang menganggur. Yang belum dapat pekerjaan kita kasih bantuan usaha, silahkan bilang mau usaha apa? Kita kasih bantuan.”
Memang benar, hampir semua keresahan dan kesusahan anak-anak muda dalam mencari pekerjaan beliau mudahkan.
Tapi tahukah? Masih banyak teman-teman saya bahkan pemuda lainnya yang bekerja layaknya pegawai swasta dalam perusahaan tidak memahami dan tahu dengan benar hak-hak mereka sebagai karyawan. Dimana yang sudah seharusnya dimiliki, namun dihiraukan dan dimanfaatkan oleh beberapa pihak perusahaan.
Berikan Komentar

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*