Kembalikan Khittah Taman Baca

Penulis : Masyudi Martanipadang

Pencapaian pemerintah kota palopo dalam membangun infrastruktur dapat dilihat dari sejauh mana infrastruktur itu berguna bagi masyarakat. Hal ini tentu menjadi bagian penting dengan melihat asas manfaat serta kegunaan infrastruktur yang telah terbangun.

Selama dua tahun terakhir, pemerintah kota palopo paling gencar dalam membangun infrastruktur perkotaan, mulai dari infrastruktur jalan raya, trotoar, pembangunan kantor pemerintahaan, pemanfaatan lahan kosong menjadi ruang terbuka hijau hingga taman-taman kota pun yang direnovasi sedemikian rupa untuk mempercantik kota palopo. Hal ini tentu mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat kota palopo, tak hanya masyarakat kota palopo itu sendiri namun hal ini juga mendapat apresiasi dari masyarakat tetangga se-tanah luwu raya itu sendiri.

Salah satu yang mendapat perhatian dari sejumlah masyarakat yakni Taman Baca yang merupakan taman yang berada di titik nol di kota palopo. mengapa tidak, sebelum priode pemerintahan JA sekarang, taman baca menjadi taman kota tidak mendapat perhatian pemerintah sebelumnya, sehingga taman baca jauh dari fungsi dan kemanfaatannya.

Padahal tujuan dan maksud pemerintah dalam membangun taman baca selain menjadikan icon kota itu sendiri, disisi lain juga sebagai salah satu manifestasi keseriusan pemerintah dalam hal dunia pendidikan yang telah terjabarkan didalam 7 pilar kota palopo. Tak hanya sampai disitu, mengingat histori panjang tanah luwu raya dalam perkembangan dan pertumbuhannya juga menjadi alasan pemerintah untuk lebih serius dalam dunia pendidikan.

Sureq i lagaligo contohnya, naskah panjang yang dimiliki oleh tanah luwu raya menandakan bahwa masyarakat tanah luwu raya merupakan masyarakat yang serius dalam dunia literasi ataupun dunia pendidikan, bukan cuman sureq i lagaligo. Namun, kita juga mengenal salah satu tokoh yakni To’Ciung yang banyak membawa perubahan dalam dunia pendidikan di tanah luwu raya ini. Sehingga, hal ini menjadi spirit pemerintah mencetuskan 7 pilar tersebut salah satunya yakni fokus terhadap pembangunan dunia pendidikan.

Setelah di renovasi, sejumlah kalangan masyarakat mengharapkan bahwa taman baca sebaiknya dikembalikan kekhittahnya. Menjadikan taman baca sesuai dengan nama dan fungsinya, karena setelah renovasi, ternyata taman baca menjadi taman yang ramai dikunjungi kalangan muda yang memanfaatkan taman tersebut, bahkan taman baca juga acapkali dijadikan muda-mudi kota palopo untuk bermesraan dan berpacaran.

Hal ini tentu, disisi lain menjadi ironi bagi pemanfaatan taman tersebut, taman yang digadang-gadang bisa menjadi salah satu ruang lahirnya pemikir-pemikir hebat kota palopo malah di jadikan sebagai tempat yang tidak semustinya, pada titik ini juga mungkin kita sangat berempati melihat kondisi tersebut, karena tidak sekontras prilaku muda-mudi yang haus akan belanja karrna telah dimanjakan oleh fasilitas publik seperti kafe, mall dan sebagainya. Hal ini juga menjadi sangat sangat perihatin mengingat pemerintah lebih dominan membangun investasi-investasi perekonomian ketimbang investasi sumberdaya manusia.

Tidak adanya perpustakaan buku yang mampu menyajikan beragam buku juga menjadi sorotan masyarakat, serta aktivitas-aktivitas edukasi lainnya, fasilitas seperti toilet dan kebersihan taman juga menjadi suatu ironi, apalagi mengingat taman ini bersebelahan dengan istana langkanae kedatuan luwu.

Sehingga hal ini mendapat perhatian dari kalangan masyarakat kota palopo yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian palopo untuk membuka ruang baca dipusat kota tersebut sebagai respon atas ketidakmampuan pemerintah menyajikan perpustakaan dan sarana lainnya di taman baca tersebut. Disisi lain, juga sebagai upaya untuk mengembangkan minat baca dan minat literasi masyarakat kota palopo serta mengembalikan khittah taman baca sebagaimana semustinya.

Dalam hal Mengembalikan taman baca kekhittah semulanya tidaklah mudah. Namun, harus bertahap dilakukan oleh pemerintah yang didorang dari kesadaran masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan taman baca, sehingga taman baca menjadi suatu icon kota Palopo yang mampu melahirkan sumberdaya manusia yang cakap, kapabilitas, berkualitas serta yang mampu menjawab tantangan zaman. Tentu hal ini juga harus menjadi fokus pemerintah dalam memfasilitasi taman tersebut. Bukan kah slogan pemerintah kali ini yakni adalah Kerja, maka tak salah apabila saat ini pemerintah dapat mengembalikan khittah taman baca dengan melengkapi unsur fasilitas didalamnya bukan?

#BloggerTanaLuwu

Link Artikel : http://www.kompasiana.com/masyudimp/59a19cec51e03929ae2c02e2/kembalikan-khittah-taman-baca

Berikan Komentar

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*