Geliat Palopo yang Makin Cantik dan Aduhai…

Penulis : Sahrial Pirham

Denting piano kala jemari menari…nada merambat pelan…dst” sepotong lirik lagu dedengkot music Indonesia Iwan Fals, terdengar hangat menyambut, saat kami baru saja tiba di Kawasan Lalebbata, Kota Palopo. Kulirik Seiko 5 Automatic, yang masih betah menemani setelah 13 tahun menemani, tertulis “Saturday, 22.34 WITA”. Sepertinya “kehidupan” di salah satu sudut Kota Palopo ini, baru saja dimulai.

Tak habis sebatang rokok, trotoar serta pedestrian jalan di Kawasan Lalebbata ini pun semakin padat dijejali pengunjung. Berbincang santai sambil menikmati genitnya lampu jalan, ditengah lalu lalang pengunjung lainnya, sungguh memberikan rasa yang hangat. Terbayang 8 tahun silam, ketika untuk pertama kali menginjakkan lagi langkah di kawasan ini, usai 17 tahun menetap di Timur Indonesia. Tak ada yang mau “nongki” di kawasan ini. “Nyaris tak ada kehidupan”, selepas sholat isya.

Yupssss….tahun 2009, kawasan ini hanyalah sepotong ruas jalan sepanjang 200-an meter. Tak punya fungsi apa-apa, selain hanya sebagai sebuah ruas jalan. Sepi dan nyaris tanpa aktifitas. Meski letaknya, hanya sepelemparan batu dari dari titik “nol km” Kota Palopo, Istana Datu Luwu. Tapi saat ini, beberapa pegiat media sosial menyebut Kawasan Lalebbata sebagai sepotong sudut Kota Bandung yang “jatuh” di Kota Palopo…!!! Yupsss…di era JA, Lalebbata mampu menjadi satu dari sejumlah projek penataan ruang publik yang “sukses pembangunan dan sukses manfaat”.

Projek lain yang mengikuti sukses Lalebata adalah Taman Baca. Di malam hari dengan lampu genitnya, viewnya tak bisa menahan nafsu para pencinta “selfie” untuk berpoto di kawasan ini. Pun demikian dengan Taman Kirab Remaja yang telah menjadi lokasi santai warga Kota Palopo setahun belakangan. Tak kalah cantik, adalah taman swim bath yang akan langsung menyambut saat menuju objek wisata pemandian Latuppa.

Untuk Taman Baca Pemkot mengucurkan dana kurang lebih hampir satu milyar, Taman Kirab Remaja hampir dua milyar. Dan untuk taman swimbath kurang lebih lima milyar dengan sumber pembiayaan yang beragam. Tahun 2017, giliran Lapangan Pancasila direvitalisasi. Proyek yang digadang-gadang bakal menyuguhkan “view dan nuansa” White House Amerika Serikat senilai kurang lebih sembilan milyar. Kehadirannya akan menjadi ikon baru. Dan yang saat ini dikerjakan adalah Taman Binturu dan Taman di Kawasan Perumnas Balandai. Jika tak aral, 2018, tiga ruang terbuka publik juga akan dibangun. Posisinya di tiga pintu masuk ke Kota Palopo. Ruang publik yang diharapkan bisa menjadi pusat etalase produk ekonomi masyarakat.

Untuk pemukiman dan perumahan, Pemerintah Kota Palopo sukses menyediakan 100 unit hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan nelayan. Lokasinya di Kelurahan Sampodo. Total nilainya 14,5 milyar. Kemudian juga dikucurkan bantuan senilai kurang lebih 300 juta, sebagai bantuan stimulasi perumahan. Setahun sebelumnya, bantuan bedah rumah dengan total 60 unit di tiga kelurahan masing masing Lagaliho, Tompotikka dan Mungkajang. Kawasan kumuh perkotaan juga ditangani serius. Melalui program NUSP (Neighbourhood Upgrading and Shelter Project) di 2016, 9 lingkungan dan 3 kawasan ditata agar nampak lebih rapi. Semuanya wilayah pesisir. Kelurahan Salotellue, Pontap, Ponjalae, Surutangga, penggoli Batupasi, Sabbamparu, Takkala dan Dangerakko. Total dana penanganannya 21 milyar. Ditambah 9 milyar di tahun 2017 ini.

Untuk infrastuktur sanitasi, pemerintahan JA juga mengucurkan pembangunan 2000 unit septic tank, atau setara dengan 6 milyar. Tahun depan berencana akan dibangun lagi 2000 unit. Setelah sebelumnya di 2016 dikucurkan 1,3 milyar untuk sanitasi termasuk perbaikan toilet umum di sejumlah rumah ibadah di Kota Palopo. Layanan air bersih juga dibenahi. Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM di Batupapan disuntik dana kurang lebih 15 milyar. Tujuannya, kualitas serta jangkauan pelayanan terus membaik. Ini sejalan dengan penyambungan air bersih ke rumah masyarakat. Tercatat sejak 2014 dilakukan penyampungan sebanyak 3000 unit Sambungan Rumah Tangga (SR), 2015 4000 SR, 2016 2000 SR dan 2017 1000 SR. Biayanya pemasangannya 50% disubsidi Pemerintah Kota Palopo…!!!Asyik kan coy. Setahun sebelumnya di 2016, total dana penaganan infrastruktur air minum sebanyak 14,7 Milyar.

Di bidang jalan, dikucurkan dana kurang lebih 15 Milyar lebih, normalisasi sungai 1,4 Milyar, pembangunan jalur pedestrian senilai 8,4 milyar dan pembangunan jembatan senilai 800 juta lebih. Sampai tahun 2016 lalu, total panjang jalan Kota Palopo yang telah tertangani yakni 208, 12 km, dengan rincian 104 km di 2016, 43 km di 2015, 24 km di 2014 dan 35 km di 2013. Drainase di 2017 dikucurkan 6,2 milyar, talud bronjong 2,7 milyar. Termasuk penataan infrastruktur pariwisata di kawasan wisata di padang lambe dan pembangunan TPA Sampah di Mancani.

Atas semua upaya ini, wajar jika kemudian publik Kota Palopo mengganjar pemerintahan JA dengan indeks kepuasan publik mencapai 94%, sesuai survey yang dilaksanakan Sawerigading Riset Center 2016 silam. Tiga aspek infrastuktur yang dinilai publik mampu dilaksanakan secara baik oleh JA adalah, jalan jembatan dan drainase. (#BloggerTana Luwu.)

Link sumber : https://sahrialpirham.blogspot.co.id/2017/08/geliat-palopo-yang-makin-cantik-dan.html

Berikan Komentar

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*